Tipologi Hubungan Sains dan Agama

sumber : kuliah Islam dan Sains Uin SUKA

Pemateri : Bapak Frida Agung Rahmadi

Isu hubungan sanis dan agama tidaklah selalu konfilk sebagaimana banyak orang duga. Sebagian kalangan berusaha mencari hubungan antara sains dan agama namun ada juga kalangan yang beranggapan bahwa sains dan agama tidak akan pernah dapat dipertemukan.

Pada tahun 1990-an, berkembang diskusi tentang sains (ilmu pengetahuan) dan agama (kitab suci) di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Diskusi dimulai oleh Ian G. Barbour yang mengemukakan teorinya tentang “Empat Tipologi Hubungan Sains (Ilmu Pengetahuan) dan Agama (Kitab Suci)” .

4 Tipologi Hubungan Sains (Ilmu Pengetahuan) dan Agama (Kitab Suci) menurut Ian G. Barbour yaitu :

  •  Tipologi Konflik
  • Tipologi Independensi
  • Tipologi Dialog
  • Tipologi Integrasi

Tipologi Konflik

Tipologi ini menganggap bahwa sains dan agama saling bertentangan. Tipologi ini dianut oleh kelompok materialism ilmiah dan kelompok literalisme kitab suci.

Pandangan kelompok Materialisme Ilmiah

  •  keyakinan agama tidak dapat diterima karena agama bukanlah data yang dapat diuji dengan percobaan
  • keyakinan agama tidak dapat diterima karena agama bukanlah data yang dapat diuji dengan percobaan
  • keyakinan agama tidak dapat diterima karena agama bukanlah data yang dapat diuji dengan percobaan

Pandangan kelompok Liberalisme Kitab Suci

  • teori ilmiah melambungkan filsafat materialisme dan merendahkan perintah moral Tuhan

Penyebab konflik agama dan sains ada 2 yaitu :

  • Fundamentalisme Sains (ilmu pengetahuan)
  • Fundamentalisme Agama (kitab suci)

Sikap yang merasa dirinya yang paling benar dan menyalahkan orang lain lah yang membuat konflik agama dan sains.

Tipologi Independensi

Tipologi ini menganggap bahwa konflik sains dan agama tidak perlu terjadi karena sains (ilmu pengetahuan) dan agama (kitab suci) berada pada wilayah yang berbeda.

Tipologi Dialog

Tipologi ini mencari hubungan antara sains dan agama (kemiripan dan perbedaannya) secara ilmiah baik hubungan konseptual dan metodologis.

Konseptual

  • sains menyentuh persoalan di luar wilayahnya sendiri (misalnya: mengapa alam semesta serba teratur?)
  • sains digunakan sebagai analogi untuk membahas hubungan Tuhan dengan dunia, yakni adanya kesejajaran konseptual antara teori ilmiah dan keyakinan teologi

Metodologi

  • sains digunakan sebagai analogi untuk membahas hubungan Tuhan dengan dunia, yakni adanya kesejajaran konseptual antara teori ilmiah dan keyakinan teologi

Sains : Obyektif – Subyektif

  • Data ilmiah yang menjadi dasar sains, ternyata melibatkan unsur-unsur subyektifitas
  • Subyektivitas itu terjadi pada asumsi-asumsi teoritis yang digunakan dalam proses pemilahan, pelaporan, dan penafsiran data
  • Sebagian teori sains lahir dari imajinasi kreatif yang di dalamnya mengandalkan analogi dan model

Agama : Subyektif – Obyektif

  • Agama tidak sesubyektif yang diduga
  • Data agama (pengalaman keagamaan, ritual, dan kitab suci) lebih banyak diwarnai penafsiran konseptual
  • Asbaabun nuzuul (Al-qur’an)
  • Asbaabul wuruud (Al-hadits)

Tipologi Integrasi

Target dari tipologi ini adalah memadukan antara agama dan sains sehingga dapat berjalan bersama-sama dengan menyerukan perumusan ulang terhadap gagasan-gagasan teologi tradisional dan teologi tradisional dikaji secara lebih ekstensif (luas) dan sistematis.

Ada 3 versi integrasi yaitu:

  • Natural Theology

Menjadikan alam sebagai sarana untuk mengetahui Tuhan. Eksistensi Tuhan dapat disimpulkan dari (didukung oleh) bukti desain alam, yang dari alam tersebut dapat menyadari adanya Tuhan.

  • Theology of Nature

Berangkat dari pemahaman keagamaan. Pemahaman keagamaan yang ada disinari dengan sains.

ITT + S = TR (Arthur Peacocke)

Dimana :

ITT = Iman dan teologi tradisional
S = Sains
TR = Teologi yang telah direvisi

Teologi ini akan menjadikan pemahaman keagamaan yang disinari sains ketika agama dipersatukan dengan sains.

  • Sintesis Sistematis

Pemaduan agama dan sains secara lebih sistematis. Memberikan kontribusi ke arah pandangan yang lebih koheren. Dengan melalui filsafat proses, setiap peristiwa atau teori baru merupakan produk masa lalu dari tindakan dan aksi Tuhan.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: